Followers

Wednesday, April 27, 2022

Jurnal Refleksi Minggu ke 19 Pendidikan Guru Penggerak

Bismillah...

Pelaksanaan jurnal refleksi minggu ke 19 yaitu dilaksanakan pada tanggal 16 April s.d. 22 April 2022.

Pada jurnal refleksi minggu ini saya akan menggunakan metoide  4 F. 

4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedangterjadi pada saat penulisan jurnal):

1. Facts (Peristiwa): Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut? 

2. Feelings (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut. 

3. Findings (Pembelajaran): Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini? 

4. Future (Penerapan): Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini?

Refleksi

Fact (Peristiwa)

Pada tanggal 16. April 2022 kami seluruh calon guru penggerak melakukan lokarya 4  yang berlokasi di Hotel Novena Lembang.  Materi yang disampaikan dalam lokakarya yaitu guru yang berpihak kepada murid dengan pembelajaran didalamnya komitmen kegiatan, teknik coaching dan pembuatan RPP disperensiasi. 


Pada tanggal 18 April 2022  melakukan refleksi terbimbing modul 3.1 berdasarkan kegiatan pembelajaran yang dilakukan di LMS. 

Dokumen refleksi dalam blog saya https://www.aimulyati.web.id/2022/04/refleksi-terbimbing-modul-31.html

Tanggal 19 April 2022   calon guru penggerak diminta untuk membuat demonstrasi kontekstual pembuatan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. 

Pada tanggal 21 April 2022  melakukan kegiatan elaborasi pemahaman pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan cara membuat pertanyaan yang akan ditanyakan kepada instruktur pada pertemuan selanjutnya dengan instruktur  dalam elaborasi yang dilakukan melauli G Meett. 

Jumat, 22 April 2022 saya  bertemu dengan instruktur, fasilitator, pengajar praktik dan calon guru penggerak lainnya dalam kegiatan elaborasi pemahaman pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. 



Feeling (Perasaan)

Perasaan yang saya rasakan di prmbelajaran sangat bersemangat  dan antusias mengikuti kegiatan setiap sesinya. Hal ini karena saya ingin lebih jauh mengetahui tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saya tertarik untuk menganalisis kasus-kasus yang ada dalam LMS berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 tahapan pengambilan dan pengujian keputusan sehingga keputusan diambil secara tepat. 

Fiidings (Pembelajaran)

Pembelajaran yang saya dapatkan yaitu banyak pengalaman dan info yang sangat bermanfaat sehingga bisa digunakan di sekolah saya.  saya dapat merefleksikan bagaimana cara  pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran,  dapat kesempatan dalam dalam pengambilan dilema etika  yang dialami, pengalaman membuat berbagai pertanyaan kepada instrutur tentang pengambilan keputusan dan menambah wawasan dan pengetahuan saya dalam pembelajaran pengambilan keputusan pembelajaran berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 

Future (Peneraopam)

Penerapan yang akan saya lakukan  dalam menerapkan pengambilan keputusan pembelajaran adalah menerapkan ilmu yang saya dapat pada modul 3.1 dan melaksanakan praktik pengambilan keputusan di sekolah. 

Demikian yang dapat saya sampaikan dalam refleksi pembelajaran minggu ini.

Terima Kasih.

Salam Sehat... Salam Bahagia... Salam Guru Penggerak ...

Monday, April 25, 2022

KONEKSI ANTAR MATERI 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN




Bismillah...

" Mengajarkan anak berhitung itu baik, namun mengajarkan mereka  apa yang berharga /utama adalah yang terbaik "
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best)


BobTalbert

Proses pembelajaran pendidikan guru penggerak merupakan  suatu proses yang yang dijalani untuk mendapatkan hasil transformasi pendidikan yang lebih baik. Hal ini dilakukan  untuk mewujudkan merdeka belajar , yang harus dipahami oleh calon guru penggerak adalah bagaimana  mengajarkan sesuatu yang berharga  dalam proses pendidikan ini.

Nilai-nilai dan prinsip-prinsip dalam mengambil keputusan dapat  memberikan dampak yang positif terhadap lingkungan kita. Pengambilan keputusan  menjadi lebih tersusn dengan baik melalui langkah-langkajh dalam pengambilan keputiusan 

Sebagai seorang pemimpin pembelajar saya dapat berkonstribusi langsung dalam pengambilan keputusan dalam proses pembelajaran di lingkungan sekolah.

Dalam pembelajaran pendidikan guru penggerak  modul 3.1.a.9. Koneksi antar materi  saya akan membuat rangkuman tentang pemahaman saya  yang berkaitan dengan koneksi antar materi dengan menjawab 10 pertanyaaan yang disajikan dalam LMS. 

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan  filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah keputusan sebagai seorang pemimpin?

Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu suatu proses yang menuntun segala kodrat pada anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

Filosofi Triloka sangat berpengaruh pada keputusan seorang pemimpin. pengambilan keputusan ini harus berdasarkan pada prapta triloka Ki Hajar Dewantara yaitu 

a. Ing Ngarsa Sung Tuladha artinya memberi contoh di depan. 

    Proses pembelajaran yang dilakukan seorang guru  harus memberikan contoh atau keteladanan kepada muridnya agar tercapainya proses pembelajaran yang baik. Guru membimbing dan mengarahkan muridnya serta memjadi pemimpin pembelajaran yang bisa dijadikan teladan atau contoh kepribadian yang baik selain mempunyai kompetensi yang dimilki oleh seorang guru. 

b.  Ing Madya Mangun Karsa artinya di tengan membangun kehendak. 

  Setiap murid memiliki kompetensi yang berbeda-beda. Sebagai seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat berperan di tengah  dalam hal membangun dan memunuculkan kehendak, keinginan, niat positif yang lahir dari pribadi anak, sehingga potensi yang ada dalam diri anak mampu dioptimalkan dengan baik dan mampu membawa pada kehidupan yang jauh lebih baik lagi dikehidupan.

c. Tut Wuri Handayani artinya mendorong dari belakang. 

    Potensi yang dimiliki oleh seorang murid perlu di dorong dari belakang oleh seorang guuru untuk dapat mewujudkan cita-cita dan mengembangkan potensi yang dimiliki murid. 

Filosofi triloka sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan bagi pemimpin pembelajaran karena keputusan yang diambil harus bisa menjadi teladan bagi murid, membangun dan mengembangkan setiap potensi murid dan mendorong murid dalam mewujudkan cita-citanya berdasarkan potensi yang dimilikinya berdasarkan keputusan yang kita buat sebagai pemimpin pembelajaran. 



Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan ? 

Nilai- nilai positif  harus ditanamkan dalam diri untuk dapat membuat keputusan-keputusan yang baik serta dipertimbangkan keputusannya dengan matang.  

Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong guru untuk mengambil keputusan yang benar. Nilai-nilai tersebut yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif  serta berpihak kepada murid. Nilai-nilai tersebut merupaka prinsip yang dipegang ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita dalam mengambil dua keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada di sutu dilema etika (benarvs benar) atau berasa dalam dua pilihan antara benar lawan salah (bujukan moral) yang menuntun kita untuk mengambil keputusan yang benar. 

Tiga prinsip yaitu berpikir berbasis hasil akhir ( End Based Thingking), berpikir berbasisi peraturan  (based Based Thingking), dan berpikir berbasis rasa peduli (Care based Thingking

Artinya  nilai-nilai yang ada  dalam diri kita sengat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan  yang diambil berdasarkan prinsip-prinsip. 

Kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan "coaching" (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching" yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching adalah keterampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah TIRTA, kita dapat mengidentifikasikan masalah yang terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis.  Konep coaching TIRTA sangat ideal apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang diambil.

Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan seorang guru karena sebagai coach akan menggali potensi dari murid dengan memberikan pertanyaan pemantik sehingga murid dapat menemukan potensi yang ada dalam dirinya untuk dapat meyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya dengan mengambil keputusan yang tepat.

TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.

Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :

T : Tujuan

I : Identifikasi

R : Rencana aksi

TA: Tanggung jawab

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Kompetensi sosial dan emosional sangat diperlukan agar guru dapat fokus dan melakukan kesadaran penuh dalam mengontrol dirinya, dapat mengambil keputusan dengan tepat, dan mewujudkan merdeka belajar. 

Dengan kesadaran penuh (mindfulness) kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang, dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan. (Hawkins, 2017, hal 15). Kesadaran penuh sangat dibutuhkan dan diperlukan dalam pengambilan keputusan adalah kesadaran penuh untuk dapat menentukan situasi yang sedang dihadapi tepat dalam mengambil paradigma dan prinsip berpikir, cermat dalam menentukan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Pembahasan tentang studi kasus yang dihadapi oleh seorang pendidik adalah dengan menganalisis terlebih dahulu apakan permasalahan tersebut lebih focus pada masalah moral atau dilemma etika. Penerapan empat paradigma sangat membantu setelah mengetahui ranah masalah atau situasi yang sedang dihadapi, langkah ketiga prinsip berpikir mana yang digunakan dan tindakan selanjutnya adalah peninjauan dan pengambilan keputusan dengan menggunakan 9 langkah tahapan, proses ini diharapkan dapat membantu CGP sebagai pemimpin pembelajaran dapat menghasilkan keputusan yang cermat dan tepat dalam menghadapi sebuah situasi baik dilema etika atau bujukan moral.

Proses kegiatan sebagai pemimpin pembelajaran harus mengambil keputusan yang tepat dan  merupakan keputusan yang bertanggung jawab.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Sebuah pengambilan keputusan yang baik dan tepat tentunya harus dilakukan secara tepat dan bertanggung jawab serta menganalisis berbagai aspek dan sudut pandang. Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada lingkungan yang nyaman, aman, positif, dan kondusif karena kita sebagai pemimpin pembelajaran mengambil keputusan yang tepat yang dapat berdampak positif bagi banyak pihak yang ada disekolah/lingkungan asal. 

Langkah yang perlu dilakukan adalah mengenali terelebih dahulu kasus yang terjadi apakah kasus atau permasalahan tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral.

Selanjutnya  pengambilan keputusan mempertimbangkan empat paradigma dilema etika. Apakah paradigma dilema etika individu melawan masyarakat, rasa keadilan melawan rasa kasihan, kebenaran melawan kesetiaan, atau jangka pendek melawan jangka Panjang. 

Keputusan tersebut haruslah diambil dengan menggunakan langkah-langkah pengambilan dan pengusian keputusan yang benar, sehingga pada akhirnya guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran  mampu menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman untuk murid dan lingkungan sekolahnya.

Apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan-kesulitan di lingkungan saya dalam melaksanakan dan menjalankan pengambilan keputusan -keputusan terhadap dilema etika disebabkan berbagai faktor misalnya, masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun, masih minimnya pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki dalam menyelesaikan situasi permasalahan yang dihadapi, kekhawatiran apakah keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat dan dapat mengakomodir kepentingan orang banyak serta tidak mencederai pihak lainnya, dan adanya perbedaan mindset dan sudut pandang yang menyebabkan sulitnya menemukan solusi atau kesepakatan yang dapat diterima oleh setiap pihak yang terlibat.

Pemahaman tentang 4 paradigma dilema etika harus benar-benar dipahami dan di hayati agar kita bisa membuat keputusan terhadap kasus-kasus yang dihadapi sehingga menghasilkan lingkungan yang positif dan kondusif, sehingga kesulitan dalam tantangan ini dapat diatasi dengan baik.

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pengambilan keputusan yang dilakukan tentu akan mempengaruhi pola pengajaran yang kita lakukan terhadap murid. Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu keputusan yang diambil sebagai bentuk proses dalam menuntun murid untuk merdeka, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam, zaman dan potensi yang dimilikinya. Hendaknya guru memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan bakat dan potensi yang dimiliknya. 

Dengan adanya  penjelasan materi dari modul 3.1 saya menjadi tahu bagaimana membuat  keputusan dengan baik baik terutama saat menemukan masalah belajar pada murid, dengan semua materi yang telah dipelajari dari modul pendidik sudah seharusnya memberikan keputusan yang bersifat positif, membuat murid  merasa nyaman, dan tenang. Semuanya dilakukan untuk  memerdekakan murid dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan belajar mereka.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi  kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran keputusan kita dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan masa depan murid, oleh karena itu sebagai seorang guru kita perlu mempertimbangkan segala keputusan secara tepat. Dengan memperhatikan empat paradigma, tiga prinsip dan 9 langkah dalam pengambilan keputusan. 

Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang berkaitan dengan modul ini dengan modul sebelumnya yaitu

Pengambilan keputusan yang diambil oleh pemimpin pembelajaran harus berlandaskan pada filosofi  Ki Hajar Dewantara yang berhubungan dengan filosofi Pratap Triloka yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha artinya memberi contoh di depan, Ing Madya Mangun Karsa artinya di tengan membangun kehendak,  dan Tut Wuri Handayani artinya mendorong dari belakang. Juga harus berdasarkan pada budaya positif  dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang postif, kondusif, aman dan nyaman serta guru harus memiliki kesadaran penuh ( mindfullnes). untuk menghantarkan muridnya pada profil pelajar pancasila. Dalam perjalanannya ada dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 tahapan dalam pengambilan dan pengujian  keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu permasalahan agar keputusan dapat diambil dengan tepat dan bertanggung jawab. 

Demikian koneksi materi dalam mengambil keputusan yang saya pahami dihubungkan dengan materi-materi pada modul sebelumnya.

Semoga apa yang saya paparkan dapat bermanfaat khususnya untuk saya dan umumnya untuk pembaca. 

Terima Kasih.

Salam Sehat... Salam Bahagia.. Salam Guru Penggerak ...

 

Tuesday, April 19, 2022

Refleksi Terbimbing Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Bismillah...

Pada pembelajaran ini saya akan  melakukan refleksi ter bimbing modul 3.1. Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Adapun tujuan pembelajaran ini adalah Calon guru penggerak mampu melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan mengunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.

" Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berprilaku etis "

- Georg  Wilhelm Friedrich Hegel  -

Dari kutipan di atas saya dapat menyimpulkan bahwa pendidikan merupakan hal yang dibutuhkan manusia, dalam proses pendidikan tersebut diibaratkan sebuah seni yang membuat manusia berprilaku etis. Seni merupakan segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya dan bersifat indah sehingga menggerakkan jiwa perasaan manusia yang dibuhungkan dengan berprilaku etis. Perilaku etis yang dimaksud adalah prilaku yang sesuai dengan norma, nilai, dan hukum yang berlaku. Prilaku etis sangat bermanfaat baik untuk kepentingan individu maupun  lingkungan. 

Refleksi Terbimbing

1. Bagaimana / sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu dilema etika dan bujukan moral. 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan ? 

Jawab : 

Pada pembelajaran modul 3.1 ini saya mendapatkan pemahaman tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang di dalamnya berisi konsep tentang dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Dilema etika adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih diantara dua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Dalam situasi dilema kita harus membuat keputusan yang bertanggung jawab supaya menghasilkan keputusan yang benar.

Dilema etika  memiliki 4 paradigma yaitu 

1. Individu lawan masyarakat (  individual vs community)

Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu melawan masyarakat dimana individu tersebut menjadi bagiannya.

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan ( justice vs mercy)

Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang, tetapi di sisi lain ada pengecualian karena berdasarkan atas kasihan dan juga rasa kasih sayang.

3. Kebenaran lawan Kesetiaan (Truth vs loyalty)

Kebenaran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam dituasi dilema etika. Apakah kita akan mengungkapkan kebenaran atau kejujuran berdasarkan fakta  ataukah kita akan menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok atau kesepakatan yang telah dibuatkan sebelumnya.

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short tern vs long term)

Dalam paradigma ini penting untuk memilih yang terbaik yang dilakukan saat ini atau nanti kedepannya.


Etika bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Tentu ada prinsip-prinsip yang berlaku. Terdapat 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu 

1. Berpikir berbasis hasil akhir ( End Based Thinking)

" Saya lakukan karena itu yang terbaik untuk banyak orang "

2. Berpikir berbasis peraturan (Rule Based Thinking)

"Ikuti prinsip aturan-aturan yang sudah ditetapkan"

3. Berpikir berbasis  Peduli ( Care Based Thinking)

" Memutuskan sesuatu dengan pemikiran apa yang Anda harapkan orang lain lakukan terhadap Anda"


Dalam mengambil keputusan kita harus memperhatikan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Diantaranya yaitu :

1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi ini

2. Menentukan siapa saja yang terlibat

3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan

4. Pengujian benar atau salah (uji legal, regulasi, instuisi, publikasi dan panutan)

5. Pengujien benar lawan benar

6. melakukan prinsip revolusi

7. Investigasi opsi Trilema

8. Buat keputusan

9. Lihat lagi keputusan dan refeksikan.

Pengambil keputusan merupakan sebuah keterampilan yang perlu dimiliki setiap pemimpin pembelajaran. Hal ini penting untuk pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yang berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan yang universal.

Hal yang tak terduga menurut saya adalah adanya beberapa pertimbangan dalam mengambil keputusan diantaranya adanya paradigma, prinsip dan tahapan yang harus dilakukan dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. 

Biasanya dalam mengambil keputusan ketika saya dihadapkan dalam dilema etika, saya memilih keputusan yang logis menurut pandangan saya tanpa memperhatikan paradigma, prinsip dan tahapan dalam mengambil keputusan. \

2. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan ketiga materi tersebut dalam proses Anda mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang Anda hadapi selama ini.  Anda dapat juga menulis tentang sebuah situasi dilema etika yang dihadapi oleh orang lain serta keputusan yang diambil. Berilah ulasan berdasarkan 3 materi yang telah Anda pelajari di modul ini?

Jawab :

Pengalaman situasi dilema etika

Pada paradigma Rasa keadilan lawan rasa kasihan ( justice vs mercy) dimana harus memberikan penilaian kepada murid  sesuai KKM padahal murid tersebut tidak mengerjakan tugas yang sama dengan teman-teman yang lainnya. Disana ada dilema antara tidak memberikan nilai kepada murid tersebut karena sesuai aturan dan tidak adil pada murid yang lainnya yang telah dengan giat mengerjakan tugasnya dengan rasa kasihan kepada murid yang tidak mengerjakan tugas karena akan berpengaruh pada kelulusan murid tersebut sehingga memberi nilai KKM. 

Dengan pertimbangan Prinsip Berpikir berbasis  Peduli ( Care Based Thinking) karena  dengan berbagai pertimbangan yang akan berdampak pada murid tersebut sehingga diberi nilai KKM. Pertimbangan murid tersebut memiliki potensi keterampilan yang lain sehingga kedepannya berpengaruh terhadap masa depan murid tersebut. 

Pertimbangan setiap tahapan dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 

3. Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Jawab :

Dampak setelah mempelajari modul ini adalah saya menjadi memiliki ilmu dan pengetahuan baru dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Sebelum mempelajari modul ini saya mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan kelogisan yang menurut saya baik  bagi diri saya dan juga bagi orang lain.

Setelah mempelajari modul ini saya menyadari betapa pentingnya mengidentifikasi antara paradigma, prinsip dan tahapan dalam pengambilan keputusan  hal ini berhunbungan dengan situasi yang sama-sama benar dan kita perlu memutuskan dengan rasa tanggung jawab.

4. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?

Jawab :

Bagi saya mempelajari modul ini sangat penting baik sebagai individu maupun sebagai seorang pemimpin pembelajaran. 

Sebagai individu atau sebagai pemimpin pembelajaran kita akan dihadapkan pada situasi dilema, dimana kita harus memilih antara dua pilihan dan keputusan yang kita ambil haruslah keputusan yang terbaik  dan dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini bisa kita pelajari dengan memahami paradigma, prinsip, dan tahapan pengambilan keputusan. Sehingga keputusan yang kita ambil tepat.

5. Apa yang bisa Anda lakukan untuk membuat dampak / perbedaan di lingkungan Anda setelah mempelajari modul ini ?

Jawab :

Mempraktikan apa yang dipelajari ketika kita dihadapkan dalam situasi dilema etika dan bujukan moral. Selain itu mencoba untuk melakukan pengimbasan apa yang sudah dipelajari kepada rekan-rekan di sekolah dengan berbangai pengetahuan yang sudah dimiliki dalam mempelajari modul ini.


Demikian refleksi terbimbing saya dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajar.

Terima Kasih ...

Salam Sehat... Salam Bahagia... Salam Guru Penggerak...

Monday, April 18, 2022

Jurnal Refleksi Minggu ke 18 Pendidikan Guru Penggerak

 


Bismillah...

Jurnal Refleksi Minggu ke 18 pendidikan guru penggerak yaitu tentang keputusan pemimpin pembelajar. Di minggu ini saya akan merefleksikan jurnal dengan model 4 C (Connection, challenge, concept, change).

Model ini dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Model ini cocok untuk digunakan dalam merefleksikan materi pembelajaran. Ada beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan dalam membuat refleksi model ini, yaitu:

1. Connection: Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak? 

2.Challenge: Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda              jalankan selama ini? 

3. Challenge: Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?

4. Change: Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin Anda lakukan setelah mendapatkan materi pada           hari ini?

 Refleksi

pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dari tanggal 11 s.d. 16 April 2022. 

Connection

Keterkaitan antara pembelajaran pengambilan keputusan dan peran guru penggerak.  Peran dari guru penggerak salah satunya adalah pemimpin pembelajaran.  Sebagai pemimpin pembelajar harus dapat mengambil keputusan yang berpihak kepada murid dan keputusan harus berlandaskan pada  prinsip pengambilan keputusan dan memperhatikan langkah-langkah pengambilan keputusan.

Challenge

Dalam mengambil keputusan biasanya saya melihat hasil akhir dari pengambilan keputusan karena belum mengetahui tentang paradigma, prinsip, dan langkah-langkah pengambilan keputusan. Ide dalam pengambilan keputusan kita harus jeli terhadap lingkungan dan juga memperhatikan langkah pengambilan keputusan untuk memastikan apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan nilai-nilai postif.

Challenge

Tugas pengambilan keputusan suka ada dilema. Untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab harus memperhatikan. berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

3 Prinsip pengambilan keputusan terdiri dari :

1. Berpikir berdasarkan jasil akhir (ends based thinking)

2. Berpikir berbasis peraturan. ( rule based thinking)

3. Berpikir berbasis rasa pedulu. ( Care based thingking)

4 paradigama dilema etika yaitu 

1. Individu lawan  masyarakat (individual vs comunity)

2. Rasa keadilan lawan rasa kasian (justice vs mercy)

3. Kebenaran lawan kesetiaan (thrus vs royalty)

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Konsep pengujian atau langkah-langkah  keputusan yang diambil harus memperhatikan :

(1)Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini 

(2)Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini (

3)Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini 

(4)Pengujian benar atau salah, meliputi: a. Uji Legal, b. Uji Regulasi/Standar Profesional, c. Uji Intuisi, d. Uji Halaman Depan Koran e. Uji Panutan/Idola f. Uji halaman depan koran, g. Uji Panutan/Idola

 (5)Pengujian Paradigma Benar lawan Benar 

(6)Melakukan Prinsip Resolusi

 (7)Investigasi Opsi Trilema 

(8)Buat Keputusan

 (9)Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.

Pengambil keputusan memang tidak mudah perlua ada berbagai pertimbangan yang akan dilakukan.

Change

Dengan memahami materi ini saya berharap kedepannya saya dapat mengambil keputusan dalam proses pengambilan keputusan secara benar dengan mempehatikan  keadaan.  Baik keputusan dalam proses saat pembelajaran maupun sebagai pemimpin di sekolah.

Perubahan yang terjadi pada diri saya setelah mempelajari pembelajaran sekarang saya menjadi lebih berpikir dalam mengabil keputusan supaya apa yang diputuskan tidak merugikan orang lain dengan memperhatikan paradigma, prinsip, dan langkah pengambilan keputusan.

Pembelajaran minggu ini di tutup dengan adanya lokakarya 4 Pendidikan guru penggerak sebagai bekal kedepannya dalam lokakarya ini di bahas tentang rencana pelaksanaan pembelajaran dan praktek coaching.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada jurnal refleksi minggu ke 18 ini. Semoga apa yang saya tulis menjadi pengalaman saya dalam mengikuti pendidikan guru penggerak dapat bermanfaat khusus nya untuk saya dan umumnya untuk yang membaca.

Terima Kasih.

Salam Sehat... Salam Bahagia... Salam Guru Penggerak...
















 


Thursday, April 14, 2022

3.1.a.4.3. Forum Diskusi - Eksplorasi Konsep

 


KASUS 5


https://youtu.be/yLrAtuNAldo

 

Hasil analisis studi kasus yang saya lakukan pada kasus 5 yaitu

 

1.   Apa keputusan yang Anda ambil ? 

Keputusan atau tindakan saya adalah saya menunggu sampai proses ujian selesai. Setelah itu saya  memanggil kedua siswa yang pergi ke toilet saat ujian berlangsung dan memberitahu perihal temuan kertas contekan yang  berada di toilet siswa. Memberi nasihat kepada siswa tersebut bahwa mencontek itu adalah perbuatan curang  dan tidak jujur yang tidak boleh dilakukan karena sebelumnya sudah ada kesepakatan kelas untuk tidak mencontek. Tindakan selanjutnya mengulang pelaksanaan tes untuk siswa tersebut sebagai konsekwensi atas tindakan yang telah dilakukan. 

 

2.   Prinsip mana yang Anda gunakan, dan mengapa?

      Prinsip yang saya gunakan adalah berpikir berbasis peraturan (Role-Base Thingking).  Hal ini berkaitan dengan tindakan saya yang meminta siswa tersebut mengulang kembali ulangannya karena  mencontek. Mencontek merupakan perbuatan tidak jujur.  Nilai kejujuran perlu diterapkan oleh semua orang untuk membentuk karakter siswa yang baik.

 

3. Mari kita terapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan studi kasus Anda.

a.   Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut?

Budaya positif menanaman nilai kejujuran perlu di terapkan kepada murid untuk membentuk karakter yang baik.

 

Apabila saya menjadi bu Aminah dan membiarkan kedua murid tersebut mencontek untuk mendapatkan nilai yang bagus karena rasa kasihan kepada kedua murid .

 

Namun itu tidak adil untuk murid yang lain yang sudah susah payah belajar agar mendapatkan nilai yang bagus sehingga saya bila menjadi bu Aminah akan bertindak adil kepada seluruh murid dan memberikan konsekwensi untuk murid tersebut untuk mengulangi ulangannya dan menyampaikan kesepakatan tidak akan mengulangi perbuatannya yang tidak jujur.

 

 

 

b.   Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut ?

Yang terlibat dalam situasi tersebut adalah : Ibu aminah dan kedua orang murid yang mencontek.

 

c.   Apa fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut ?

Fakta- fakta  yang relevan dalam situasi tersebut adalah :

1.      Terlihat ada 2 orang murid secara bergantian permisi untuk pergi ke toilet.

2.      Kecurigaan dari bu Aminah atas sikap dan prilaku dari kedua murid yang dating dari toilet tersenyum dan lancar mengerjakan ulangannya.

3.      Kecurigaan bu Aminah akan murid tersebut.

4.      Ijin  kepada seluruh murid untuk keluar dulu dengan catatan tidak boleh bekerja sama.

5.      Ibu Aminah pergi ke toilet siswa dan mengecek keadaan toilet tersebut.

6.      Ibu Aminah menemukan kertas contekan di toilet tesebut.

 

d.   Mari kita lakukan pengujian benar atau salah terhadap situasi tersebut.

•   Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut? (Uji legal)

    Tidak ada pelanggaran hukum dalam situasi yang dihadapi tersebut.

 

•   Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut? (Uji regulasi)

    Pelanggaran peraturan/kode etik yaitu pelanggaran  yang dilakukan oleh murid yaitu berprilaku curang, tidak jujur dan mencontek. Pelanggaran peraturan yang dilakukan kedua murid tidak dikenakan sanksi hukum.

 

•   Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini? (Uji intuisi)

     Berdasarkan perasaan dan Intuisi saya melihat tindakan murid tidak ada yang salah, karena murid tersebut menginginkan nilai yang bagus, tetapi saya tidak setuju dengan tindakannya yang mencontek karena menurut saya untuk mendapatkan nilai yang bagus bukan dengan cara mencontek tetapi dengan cara belajar .  saya tidak akan membiarkan kecurangan ini berlangsung sebagai tindakan dalam membimbing murid untuk berbuat baik dan menunjukkan karakter yang baik.

 

•   Apa yang anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan koran? Apakah anda merasa nyaman?

     Apabila keputusan saya dipublikasikan dihalaman depan koran dan menjadi viral, saya tidak menjadi masalah karena saya yakin tindakan yang saya lakukan benar untuk memanggil dan menyuruh murid tersebut untuk mengulang kembali ulangannya. Hal ini saya lakukan  untuk memberikan tindakan kepada murid yang tidak berbuat jujur, supaya kedepannya dia menjadi anak yang jujur.

 

 

•   Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini?

     Kepala sekolah, guru mata pelajaran, saya yakin tindakan yang saya lakukan akan sama keputusannya yaitu memberikan tes ulang kepada kedua murid tersebut sebagai bentuk konsekwensinya tidak berbuat jujur.

 

e.  Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi pada situasi tersebut?

     Paradigma yang terjadi adalah paradigma Rasa keadilan lawan rasa kasihan (Justice vs Mercy)

 

f.    Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, prinsip mana yang akan dipakai?

Prinsip yang saya gunakan adalah Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) yaitu menegakkan peraturan tidak boleh mencontek pada saat ulangan.

 

g.   Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan  tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma)?

      Investigasi opsi trilemma dalam menyelesaikan masalah ini adalah saya sebagai bu Aminah akan membiarkan terlebih dahulu ulangan berjalan normal sesuai waktu pelaksanaan ujian  dan tidak menimbulkan keganduhan di kelas.

 

Setelah ulangan selesai saya akan memanggil kedua murid yang tadi ke tolilet untuk membicarakan perihal temuan contekan yang berada di toilet serta mencari latar belakang mengapa mereka melakukan tindakan kecurangan tersebut dengan membuat mereka nyaman dari hati ke hati untuk menceritakan tindakan yang sudah dilakukan.

 

Melalui apa yang dibicarakan dengan kedua murid tersebut diharapkan adanya kesadaran dalam diri murid bahwa tindakan yang telah dilakukannya salah dan melanggar aturan dan kesepakatan kelas. Perbuatan mencontek bukanlah tindakan yang baik.

 

Konsekwensi dari tindakan yang tidak jujur tersebut yaitu mengulangi kembali tes  dengan soal yang berbeda dan disepakati waktu pengerjaanya kapan. Dengan tidak membuat mereka merasa malu pada teman-temannya maka pengerjaan ulangan tanpa sepengatuan teman-temannya dan kejadian ini menjadi pelajaran untuk murid tesebut agar tidak melakukan tindakan yang sama sehingga menjadi efek jera untuk tidak berbuat curang. Inti nya harus jujur.

 

h.   Apa keputusan yang akan Anda ambil?

      Keputusan yang akan saya ambil adalah membuat konsekuensi secara logis (memanggil, memberi peringatan dan memberi ujian ulang) kepada kedua murid tersebut tanpa harus mempermalukan mereka dihadapan semua murid lainnya serta mencoba merahasiakan kejadian tersebut kepada kedua orang tua murid tersebut.

 

i.    Coba lihat lagi keputusan Anda dan refleksikan.

           

Refleksi dari keputusan yang saya ambil, menurut saya sudah tepat karena saya melakukan tindakan untuk menanamkan karakter kejujuran kepada murid. Tetapi tidak untuk mempermalukan mereka di depan teman-temannya sehingga ini menjadi pelajaran untuk murid tersebut. Selain itu saya menerapkan keadilan kepada teman-temannya yang lain yang telah ulangan dengan cara belajar.



Selanjutnya, di bawah ini adalah beberapa pertanyaan pengayaan, CGP dapat memilih 2 (dua) dari 4 (empat) pertanyaan berikut untuk dijawab berdasarkan analisis studi kasus CGP diatas. 

  1. Dari kesembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan, apakah ada langkah-langkah yang Anda anggap  lebih penting daripada langkah lainnya, mengapa?

Langkah-langkah yang saya anggap lebih penting dari langkah lain adalah mencari fakta-fakta, untuk menguatkan pengambilan keputusan yang tepat dan kreatif.

  1. Selain kesembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan tersebut, menurut Anda apa lagi yang sebaiknya dilakukan oleh pemimpin pembelajaran dalam memastikan keputusannya adalah keputusan yang tepat?

Dari Sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang sudah dilakukan yang penting dilakukan oleh pemimpin pembelajar dalam mengambil keputusan adalah identifikasi keputusan yang diambil, cari solusi alternatif, pertimbangkan bukti dan fakta.

  1. Bila Anda menerapkan 9 langkah tersebut, apakah dapat dipastikan bahwa keputusan yang Anda ambil akan bisa mengakomodasi semua pemangku kepentingan (stakeholder) sekolah? Mengapa?

Menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan akan  mengakomodir kepentingan lebih banyak pihak  pemangku kepentingan (walaupun belum tentu 100%) akan tetapi dengan adanya langkah Investigasi Opsi Trilemma dalam menentukan keputusan akhir akan sangat memungkinkan pengambil keputusan akan memutuskan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek kepentingan semua pihak sehingga keputusan yang diambil akan tebih kreatif  dan tepat.

  1. Menurut Anda, bagaimana hubungan antara nilai-nilai dan budaya sekolah dalam pengambilan keputusan di dalam situasi dilema etika?

Hubungan antara nilai-nilai dan budaya sekolah dalam mengambil keputusan dalam situasi dilemma sangat berhubungan dimana nilai-nilai positif akan selalu diterapkan dalam budaya di sekolah.

Berkaitan dengan kasus tesebut nilai kejujuran merupakan budaya yang harus di terapkan di sekolah untuk membentuk karakter yang baik dalam diri murid.

Demikian hasil analisis kasus 5 yang saya saya buat, semoga bermanfaat khususnya untuk saya sendiri dan umumnya untuk yang membaca.

Terima Kasih.

Salam Sehat… Salam Bahagia… Salam Guru Penggerak…


Monday, April 11, 2022

Jurnal Refleksi Minggu ke 17 pendidikan Guru Penggerak

 Bismillah...

Minggu ke 17 ini diawali dengan mengikuti pembelajaran modul 3.  Pada refleksi minggu ini saya akan menyampaikan jurnal dengan model 4F.

4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal): 

1. Facts (Peristiwa): Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada         saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut?          Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang   saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut?

2. Feelings (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut.

 3. Findings (Pembelajaran): Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini? 

4. Future (Penerapan): Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini? 

Refleksi 

Facts (Peristiwa)

Minggu ke 17 ini saya melakukan postes modul 2 dan selanjutnya melaksanakan pre tes modul 3, kemudian mulai dari diri materi tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajar. Berbagai kasus yang harus dianalis, menjawab pertanyaan serta saling memberikan komentar terhadap peryataan dari calon guru penggerak lainnya. Berikutnya eksplorasi konsep mandiri tentang bagaimana membedakan dilema etika dan bujukan moral.

Hal baik yang saya alami adalah saya menjadi bertambah wawasan tentang bagaimana pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajar dan mengetahui bagaimana cara pengambilan keputusan berdasarkan prinsip keputsan yang nantinya bisa saya aplikasikan dalam kehidupan saya sehari-hari.

Kendala yang saya hadapi di minggu ini adalah bagaimana saya harus mengatur waktu saya dalam mempelajari modul dan pengerjaan LMS sehingga tak jarang saya mengerjakannya sampai malam. Manajemen waktu yang harus baik dan konsisten dalam belajar akan mengatasi kendala yang saya rasakan di minggu ini. 

Feelings (Perasaan)

Perasaan saya menghadapi pembelajaran modul ini saya menjadi termotivasi dan merasa bersemangat  dalam menyelesaikan studi kasus yang harus diambil keputusannya. Pembelajaran pengambilan keputusan peminpmpin pembelajar ini akan banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Findings (Pembelajaran)

Proses pembelajaran modul 3 ini mempelajari tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajar. Keputusan dilema etika dan bujukan moral menjadi tantangan tersendiri yang saya hadapi. saya harus memilih antara 2 pilihan tersebut dimana keduanya adalah benar tetapi saling bertentangan.

Pembelajaran ini menjadikan saya memahami bagaimana pengambilan keputusan dengan prinsip yang dipelajari. 

Future (Penerapan)

Aksi yang akan saya lakukan kedepannya saya ingin mencoba menerapkan pembelajaran ini di kehidupan saya dengan berpatokan pengambilan keputusan berdasarkan keputusan yang bertanggung jawab. 

Terima kasih. 

Demikian refleksi minggu ke 17 saya sampaikan semoga bermanfaat. khusunya untuk saya dan umumnya untuk yang membaca.

Salam Sehat... Salam Bahagia... Salam Guru Penggerak...

Thursday, April 7, 2022

Jurnal Refleksi Minggu ke 16 Pendidikan Guru Penggerak


Bismillah...

  Refleksi minggu ini saya akan memaparkan dengan model DEAL.

 Description, Examination, and Articulation of Learning (DEAL) Model ini dikembangkan oleh Ash dan Clayton (2009). 

Untuk membuat refleksi model ini, tulislah penjabaran dari pertanyaan panduan berikut:

 - Description: Deskripsikan pengalaman yang dialami dengan menceritakan unsur 5W1H (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana); 

- Examination: Analisis pengalaman tersebut dengan membandingkannya terhadap tujuan/rencana yang telah dibuat sebelumnya;

 - Articulation of Learning: Jelaskan hal yang dipelajari dan rencana untuk perbaikan di masa mendatang

Refleksi 

Description

Senin dan selasa  4  dan  5  April 2022 

Pelaksanaan aksi nyata coaching saya lakukan bersama rekan kerja saya di sekolah dengan mempraktikkan coaching model TIRTA. 

Praktik ini dilakukan bertujuan agar Calon guru penggerak dapat mengaplikasikan kegiatan coach dengan baik sehingga memiliki pengalaman yang baik yang nantinya akan diterapkan untuk kegiatan pembelajaran. 

Awalnya saya menanyakan kepada rekan kerja barangkali ada permasalahan yang akan dibagi kepada saya. Untuk kegiatan ini saya berusaha untuk membuat rekan saya nyaman menyampaikan permasalahannya dalam pembelajaran. Saya juga menunjukkan empati serta berusaha untuk menjadi pendengar yang aktif dan mengajukan pertanyaan yang reflektif untuk menggali informasi yang disampaikan oleh cocahee. 

Saya berusaha untuk menjadikan komunikasi yang asertif dalam diskusi ini, untuk mendorong chochee  memahami potensi dan kekuatan yang ada dalam diri coachee sehingga dia bisa menemukan solusi permasalahan yang terjadi sesuai potensi yang dimilikinya.

Rabu, 6 April 2022

Tes Akhir Postes Modul 2

Kegiatan postes ini dilakukan diakhir pembelajaran modul 2. Pembelajaran yang dilakukan sebelumya yaitu pembelajaran disperensiasi, pembelajaran sosial dan emosional dan praktik coaching.

Perasaan saya sangat cemas karena takut nilai yang saya peroleh kecil, selain kecemasan itu saya berusaha untuk dapat menerapkan teknik coching di sekolah dengan warga sekolah baik murid, rekan kerja, orang tua, komite atau yang lainnya. 

Examination

pengalaman yang saya lakukan dalam praktik coaching ini sudah sesuai dengan yang saya rencanakan . Saya mengajak murid dan rekan kerja dalam mempraktikkan teknik coaching ini.

Articulation of Learning

Hal yang saya pelajari setelah melakukan kegiatan coaching ini saya menjadi menyadari akan pentingnya bisa melakukan komunikasi asertif, menjadi pendengar aktif dan belajar untuk membuat pertanyaan yang reflektif. 

Perbaikan kedepannya saya akan berusaha untuk dapat menerapkan teknik TIRTA dalam coaching sehingga dapat tercapai solusi yang akan disampaikan oleh choichee sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Saya juga berharap apa yang saya lakukan dapat bermanfaat untuk orang lain. 

Demikian refleksi pembelajaran minggu ke 16 yang saya sampaikan semoga apa yang saya refleksikan dapat bermanfaat khusunya untuk saya dan umumnya untuk yang membaca.

Terima Kasih...

Salam Sehat... salam Bahagia... Salam Guru Penggerak...

Sunday, April 3, 2022

Jurnal Refleksi Minggu ke 15 Pendidikan Guru Penggerak

Bismillah...

Minggu ke 15 pendidikan guru penggerak sudah mulai berakhir di modul 2 .  Pelaksanaan kegiatan yaitu tanggal 28 Maret s.d. 2 April. 

Pada refleksi minggu ini saya akan menggunakan Model Driscol. 

Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Model yang dikenal dengan Model “What?” ini pada dasarnya terdiri dari 3 bagian, namun dapat dikembangkan dengan berbagai variasi bergantung pada pertanyaan detail yang dipilih. 

1) WHAT? (Deskripsi dari peristiwa yang terjadi)

 - Apa yang terjadi? 
- Apa yang saya lihat/dengar/alami? 
- Apa reaksi saya pada saat itu? 
- Apa yang orang lain lakukan pada saat peristiwa itu terjadi? 

2) SO WHAT? (Analisis dari peristiwa yang terjadi) 

- Bagaimana perasaan saya pada saat peristiwa itu terjadi?
- Apakah yang saya rasakan sama/berbeda dengan orang yang mengalami kejadian yang sama?
- Apakah saya masih merasakan perasaan/dampak yang sama jika dibandingkan dengan                             perasaan/dampak langsung setelah peristiwa? 
- Kecenderungan apa yang saya amati dari diri saya ketika menghadapi peristiwa serupa? 
- Mengapa saya bisa memiliki kecenderungan tersebut? 
- Setelah mengalami peristiwa tersebut, apa hal yang berubah dari pendapat, pemikiran, atau apapun         yang Anda yakini sebelumnya?

3) NOW WHAT? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi)
 - Apakah kejadiannya akan berbeda jika pada saat itu saya mengambil langkah yang berbeda? 
- Di mana saya bisa mendapatkan informasi tambahan agar bisa siap ketika menghadapi peristiwa             serupa di masa depan? 
- Dukungan apa yang saya butuhkan agar bisa menindaklanjuti refleksi saya? 
- Bagian mana yang  sebaiknya saya kerjakan lebih dulu? 
- Setelah Anda melakukan pembelajaran ini, apa hal baru yang ingin Anda bagikan kepada rekan atau       lingkungan Anda?

Refleksi
 
WHAT

Pembelajaran Tanggal 28 maret 2022 kami calon guru penggerak melaksanakan refleksi terbimbing, saya melakukan refleksi terkait apa yang sudah dipelajari pada pembelajaran modul coaching, menjawab pertanyaan sebelum dan sesudah mempelajari serta kendala yang dihadapi dan bagaimana cara mengatasi kendala tersebut. 

Tanggal 29 dan 30 Maret 2022. penulis melaksanakan praktik coching dengan model TIRTA dengan siswa saya sebagai bentuk demonstrasi kegiatan pembelajaran coching.  Dalam pelaksanaan praktik coching yang saya lakukan bersama siswa, saya lebih menggali solusi yang di dapatkan oleh siswa dengan menggali potensi yang dimilikinya sehingga permasalahan yang dihadapi ada solusinya berdasarkan pemikiran dari siswa itu sendiri.

31 maret 2022, saya bersama calon guru penggerak lainnya melakukan ruang elabotasi bersama instruktur ibu Nurhanifa.  Beliau menyampaikan tentang mainset dari coaching, coaching dalam konteks pendidikan, pola pikir among dengan pola pikir coaching, paradigrma sistem pendampingan among, komunikasi yang memberdayakan, model TIRT.

1 dan 2 April saya mengingat kembali apa yang sudah saya laksanakan di minggu ke 15 ini dengan membuatnya kedalam jurnal refleksi mingguan. 

SO WHAT

Perasaan saya pada saat pembelajaran coaching saya menjadi lebih semangat untuk menerapkan praktik coaching ini, karena dapat membantu coachee dalam memecahkan solusi sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh coachee. Senang bisa membantu orang lain menemukan solusi sesuai dengan kemampuannya. Disini saya belajar menjadi pendengar yang aktif.

Proses coaching yang saya laksanakan dengan  menggunakan model TIRTA yaitu meliputi tujuan, identifikasi, rencana aksi dan tanggung jawab. 

Saya berusaha untuk membentuk komunikasi yang asertif, menjadi pendengar yang aktif dan bertanya reflektif sebagai bentuk umpan balik yang positif.

NO SWAT

Guru yang berperan sebagai coach penting untuk dapat memiliki kemampuan komunikasi yang asertif, pendengar aktif, dan umpan balik positif sehingga akan timbul perasaan yang nyaman, rasa empati, saling menghormati, saling menghargai antara coach dan coachee. 

Saya akan berusaha untuk menerapkan pembelajaran coaching ini kepada siswa, rekan kerja atau warga sekolah lainnya. Saya ingin membuat coachee menemukan solusi dari permasalahannya berdasarkan kemampuan dan potensi yang dimiliki coachee. 

Demikian yang dapat saya refleksikan di minggu ini. Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat khususnya untuk saya dan umumnya untuk yang membaca.

Terima Kasih

Salam Sehat... Salam Bahagia... Salam Guru Penggerak...