Followers

Tuesday, December 21, 2021

AKSI NYATA BUDAYA POSITIF


 LAPORAN HASIL AKSI NYATA

KESEPAKATAN KELAS  BUDAYA POSITIF

AI MULYATI,M.Pd.
CALON GURU PENGGERAK KAB. BANDUNG BARAT
SMAN 2 PADALARANG


A. LATAR  BELAKANG

Tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.  Pada dasarnya setiap anak memiliki kodrat masing-masing oleh karena itu sebagai pendidik hanya bisa "menuntun" apa yang menjadi kodrat anak tersebut.

Guru sebagai pamong memberikan keleluasaan kepada siswanya untuk dapat mengembangkan bakat dan minatnya, karena pada dasarnya setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Guru sebagai pengontrol agar murid memilliki arah dan tidak terjerumus ke hal yang negatif, serta tidak membahayakan dirinya.

Budaya positif  perlu dikembangkan di sekolah, karena dengan memilki nilai-nilai positif maka akan terbentuk karakter pelajar pancasila serta dapat menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri murid-murid  untuk menjadi pribadi yang bertanggungjawab dan berbudi pekerti luhur.

Budaya positif  di sekolah ialah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak kepada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab.

Guru diharapkan mampu untuk membuat  murid menjadi nyaman, rileks, dan humanis. Kesepakatan kelas merupakan budaya positif yang dapat dilakukan untuk dapat menjadikan kelas menjadi nyaman dan murid tidak merasa terpaksa untuk melakukan sesuatu hal karena semuanya di sepakati oleh murid, untuk murid, dan dilaksanakan oleh murid.


B. DESKRIPSI AKSI NYATA

Kesepakatan kelas  adalah hal yang dibuat di dalam kelas antara murid dengan guru untuk menjadikan kegiatan belajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Tujuan diadakannya kesepakatan kelas adalah murid diharapkan dapat belajar dengan nyaman dan merdeka, tanpa ada tekanan dan paksaan dari guru atau murid lainnya. Sehingga tim bul kesadaran dan motivasi intrinsik murid terbangun karena menyadari bahwa belajar adalah kebutuhan yang dapat bermanfaat  untuk kehidupan baik  masa kini maupun yang akan datang.

Langkah- langkah dalam melaksanakan kesepakatan kelas  Xi MIPA 3  adalah
1.  Menentukan tujuan yang ingin di capai
     Pelaksanaan kesepakatan kelas ini dilakukan melalui G Meet hal ini karena penerapan pembelajaran yang dilakukan secara on line dan off line. Hal pertama yang dilakukan penulis adalah menanyakan kepada siswa tentang tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang akan dilakukan. Hal ini berkaitan dengan kenyamanan murid dalam pembelajaran di kelas.

2. Memberikan kesempatan kepada ketua kelas untuk memimpin jalannya diskusi dalam kesepakatan kelas. 

3. Sekertaris kelas menginventaris pendapat-pendapat yang disampaikan oleh murid untuk menampung kesepakatan kelas.

4. Secara bersama-sama antara murid mengadakan kesimpulan dalam kesepakatan kelas

5. Membuat poster kesepakatan kelas 

6. Mendokumentasikan kegiatan pelaksanaan kesepakatan kelas.

7. Merefleksi kesepakatan kelas baik dari ketua kelas, sekertaris, wakil putra dan wakil putri.

C. HASIL AKSI NYATA

Kesepakatan kelas menjadikan murid menjadi mengeluarkan pendapat tentang kesepakatan yang ingin mereka inginkan.Terjadinya interaksi antar murid dalam mengeluarkan pendapat. Menjadikan guru lebih holistik karena murid menjadi nyaman dalam pembelajaran.

Kegiatan di awal pembelajaran dengan kesepakatan kelas menjadikan murid lebih menyadari bahwa apa yang mereka sepakati harus dilaksanakan dengan baik, menerapkan disiplin karena peraturan disepakati oleh mereka sendiri.

Kegiatan ini sangat berdampak positif baik untuk murid dan untuk guru. Murid mengetahui konsekwensi yang akan mereka terima apabila melanggar kesepakatan dan guru bisa dengan nyaman mengontrol murid dalam kegiatan pembelajaran sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang menjadikan murid memiliki karakter pelajar pancasila.

D. PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH

KEGAGALAN

Tantangan dalam kegiatan kesepakatan kelas adalah murid konsisten dalam melaksanakan kegiatan yang disepakati. Mentaaati dengan penuh kesadaran untuk menerapkan kesepakatan kelas.Kadang ada siswa yang belum menyadari tentang kesepakatan tersebut, tetapi penulis yakin nanti murid akan lebih meyadari akan pentingnya kesepakatan kelas.

KEBERHASILAN
 
Aksi nyata yang sudah penulis lakukan  dalam membuat kesepakatan kelas, penulis memposisi kan diri sebagai manajer karena menjadikan murid dapat mengerluarkan pendapatnya dan disepakati oleh semua murid yang ada di kelas tersebut dan diberi kesempatan untuk menerapkan disiplin yang positif berdasarkan keinginan dari murid itu sendiri.

Hal ini bersinergi dengan penerapan budaya positif yang diterapkan oleh pendidikan guru penggerak. Dapat membanngun hal positif untuk mjurid maupun guru.

E. RENCANA PERBAIKAN

Rencana perbaikan yang akan penulis lakukan adalah pemerataan ide dan gagasan tiap murid. Penulis akan memberikan kesempatan kepada semua murid untuk menuangkan ide dan gagasannya terkait kesepakatan kelas. 

F. DOKUMENTASI PROSES DAN HASIL














Tuesday, December 14, 2021

REFLEKSI TERBIMBING BUDAYA POSITIF CALON GURU PENGGERAK

 

Bismillah... 

Pada kesempatan ini penulis akan melakukan refleksi terbimbing budaya postif untuk memenuhi tugas calon guru penggerak. 

Adapun tujuan dari pembelajaran secara khusus ini adalah calon guru penggerak dapat melakukan refleksi pemahaman mengenai konsep-konsep di dalam modul Budaya Positif. 

konsep-konsep inti dalam Budaya Positif yang pertama dilakukan adalah melakukan evaluasi diri dengan memberikan tanda dan menjawab pertanyaan yang disajikan.

Pertanyaan yang disajikan adalah :

1. Saya telah belajar bahwa kita semua memiliki kebutuhan dasar, memiliki penguasaan, kesenagan,           kebebasan, dan kelangsungan hidup.

2.  Saya memahami kebutuhan dasar dalam kehidupan pribadi saya.

3. Saya mengajarkan siswa mengenai kebutuhan dasar mereka melalui kegiatan.

4. Saya mengajarkan murid saya kebutuhan dasar mereka dengan bercerita.

5. Saya mengintegrasikan bahasan mengenai kebutuhan dasar ke dalam kurikulum saya.

6. Saya mengevaluasi sendiri kebutuhab saya di depan dan menanyakan kebutuhan mereka

7. Saya menganalisis perilaku murid yang salah untuk menemukan kebutuhan di balik masalah tersebut.

8. Saya menemukan hikmat di balik perilaku buruk tersebut.

9. Saya sengaja berusaha membuat kelas saya lebih memuaskan kebutuhan.

10. Saya telah memperkenalkan konsep gambaran dunia berkualitas kepada murid saya.

11. Saya berbicara dengan murid-murid saya tentang cara-cara yang kurang pantas manusia dalam memenuhi kebutuhan mereka.

12. Saya memanggil murid-murid saya yeng berperilaku "buruk dan kotor" dan meminta perubahan.

13. Saya telah mengajarkan murid-murid bergeser dari keinginan-keinginan tertentu ke kebutuhan yang benar-benar diperlakukan.




Setelah melakukan evaluasi diri, selanjutnya saya akan memjawab pertanyaan berkaitan dengan Budaya Positif.  Tujuannya yaitu calon guru pengerak dapat melakukan refleksi terkait pemahamannya mengenai konsep-konsep modul Budaya Positif. 

Pertanyaan dan Jawaban dalam modul ini penulis sampaikan : 

1.  Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu : disiplin positif, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan ?

Disiplin Positif

Disiplin Positif bertujuan untuk menanamkan motivasi yang ketiga pada murid-murid kita yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai.

Posisi Kontrol Guru

Terdapat lima posisi kontrol guru yaitu 

1. Penghukum,

2. Pembuat Orang Merasa Bersalah,

3. Teman,

4. Monitor/ Pemantau,

5. Manajer.

Akhir dari 5 posisi kontrol seorang guru adalah pencapaian posisi Manajer, di mana di posisi inilah murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman.

Kebutuhan  Dasar Manusia

Kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power).

Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat satu persatu kelima kebutuhan dasar ini.

Keyakinan Kelas

Keyakinan yaitu nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip universal yang disepakati bersama secara universal, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama.

Murid akan lebih termotivasi dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, dari pada mengikuti serangkaian peraturan. 

Pembentukan keyakinan kelas yaitu :

- Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit. 

• Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal. 

• Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif. 

• Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas. 

• Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut. 

• Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat.

 • Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu

Segitiga Restitusi

Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Sebelumnya kita telah belajar tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik.

Di bawah ini adalah ciri-ciri restitusi yang membedakannya dengan program disiplin lainnya.

- Restitusi bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan

-  Restitusi memperbaiki hubungan

- Restitusi adalah tawaran, bukan paksaa

- Restitusi menuntun untuk melihat ke dalam diri

Hal yang menarik dan diluar dugaan 

Menurut pendapat penulis dari modul ini semuanya menarik karena antara satu dan yang lainnya saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan, diantaranya disiplin positif, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. 

Diluar dugaan  saya adalah  Saya menemukan banyak studi kasus yang dipaparkan di modul ini, sehingga kami para calon guru penggerak menjadi lebih memahami bagaimana cara mengatasi permasalahan yang ada disekitar kami khususnya tentang penyelesaian yang berpihak pada murid.

2. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan konsep-konsep inti tersebut dalam menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelasa maupun sekolah Anda ?

Penerapan budaya positif yang saya lakukan dalam kesepakatan dalam kelas saya mulai melakukan kesepakatan kelas diawal pembelajaran (keyakinan kelas) murid menuliskan kesepakatan dalam pembelajaran selama satu semester belajar dengan saya. Mereka dengan leluasa dapat menuliskan apa hak dan kewajiban mereka belajar bersama saya dan akhirnya disepakati secara bersama-sama untuk dilaksanakan berikut sanksi bagi yang melanggar peraturan yang sudah disepakati. 

Posisi kontrol yang saya lakukan adalah sebagai teman dan manajer. Dalam posisi teman saya menempatkan diri untuk murid supaya merasa nyaman di kelas dan menjadi manajer untuk dapat memanajemen murid supaya dapat melakukan budaya positif.  Melakukan evalusi untuk langkah selanjutnya untuk meningkatkan kwalitas kesepakatan kelas dan mencoba untuk menggunakan segitiga restitusi.

3. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda ?Jika Iya, ada di posisi manakah Anda? Anda boleh menceritakan situasi dan posisi Anda saat itu.

Penerapan segitiga restitusi yang pernah saya lakukan adalah sebagai teman, dan sebagai manajer. Pada saat siswa datang terlambat masuk kelas. Saya mengatakan alasan datang terlambat? sehingga saya mengetahui mengapa murid tersebut datang terlambat. Dengan alasan tersebut saya dapat mengambil langkah apa untuk dapat menyelesaikan permasalahan murid tersebut. Memberikan solusi dengan kesadaran murid itu sendiri supaya tidak datang terlambat lagi.

4. Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun di sekolah Anda setelah mempelajari modul ini ?

- Menciptakan budaya positif yang berpihak kepada murid.

- Mengontrol emosi dan mulai untuk mengolah perasaan supaya dapat membuat murid yang memiliki masalah dapat mencari solusi nya secara sadar dan nyaman.

5. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai individu danAnda sebagai pemimpin pembelajar ?

Mempelajari modul ini sangat penting dipelajari baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin pembelajar, karena dengan mempelajari modul ini kita menjadi mengetahu bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menghadapi murid yang bermasalah dan menerapkan budaya positif di sekolah yang tetap mengedepankan keberpihakan kepada murid untuk menjadikan murid memilki profil pelajar pancasila.

6. Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini ? 

Saya akan mewujudkan budaya positif  di kelas maupun di sekolah dengan konsep perubahan posisi kontrol guru, menerapkan keyakinan kelas, men coba memahami kebutuhan murid dan menyelesaikan permasalahan dengan segitiga restitusi. Serta mengajak rekanm kerja saya untuk menerapkan budaya postif.

7. Selain konsep-konsep tersebut, hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif di lingkungan kelas maupun sekolah ?

Menurut pendapat saya hal-hal lain yang perlu dipelajari dalam menciptakan budaya positif adalah membentuk keyakinan,  cara melakukan pembiasaan  budaya positif dan pemberian motivasi untuk murid.

8.  Langkah-langkah awal apa yang akan Anda lakukan jika kembali ke sekolah/ kelas setelah mengikuti sesi ini ?

Langkah-langkah yang akan saya lakukan yaitu dimulai dari diri sendiri untuk selalu menerapkan budaya positif, melakukan diskusi dengan siswa tentang kesepakatan kelas, melakukan keyakinan kelas, melakukan refleksi dan evaluasi serta meningkatkan kompetensi dalam penerapan budaya positif baik di kelas maupun di sekolah.

Demikian pemaparan saya tentang refleksi terbimbing budaya positif. Semoga apa yang saya sampaikan dapat bermanfaat. 

Terima kasih.

salam sehat... salam bahagia... salam guru penggerak


Tuesday, December 7, 2021

JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 7 CALON GURU PENGGERAK

 


Bismillah... Minggu ke 7 ini saya akan memaparkan jurnal refleksi calon guru penggerak dengan menggunakan model Discoll.

Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Model yang dikenal dengan Model “What?” ini pada dasarnya terdiri dari 3 bagian, namun dapat dikembangkan dengan berbagai variasi bergantung pada pertanyaan detail yang dipilih. 

1. WHAT? (Deskripsi dari peristiwa yang terjadi)
    - Apa yang terjadi?
    - Apa yang saya lihat/dengar/alami? 
    - Apa reaksi saya pada saat itu?
    - Apa yang orang lain lakukan pada saat peristiwa itu terjadi?

 2.  SO WHAT? (Analisis dari peristiwa yang terjadi)
    - Bagaimana perasaan saya pada saat peristiwa itu terjadi? 
    - Apakah yang saya rasakan sama/berbeda dengan orang yang mengalami kejadian yang sama?
    - Apakah saya masih merasakan perasaan/dampak yang sama jika dibandingkan dengan                             perasaan/dampak langsung setelah peristiwa? 
    - Kecenderungan apa yang saya amati dari diri saya ketika menghadapi peristiwa serupa?
     - Mengapa saya bisa memiliki kecenderungan tersebut? 
     - Setelah mengalami peristiwa tersebut, apa hal yang berubah dari pendapat, pemikiran, atau                      apapun yang Anda yakini sebelumnya?

3) NOW WHAT? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi) 
    - Apakah kejadiannya akan berbeda jika pada saat itu saya mengambil langkah yang berbeda?
   -  Di mana saya bisa mendapatkan informasi tambahan agar bisa siap ketika menghadapi peristiwa             serupa di masa depan?
   - Dukungan apa yang saya butuhkan agar bisa menindaklanjuti refleksi saya? 
   - Bagian mana yang sebaiknya saya kerjakan lebih dulu? 
   - Setelah Anda melakukan pembelajaran ini, apa hal baru yang ingin Anda bagikan kepada rekan              atau  lingkungan Anda?

REFLEKSI MINGGU KE 7

WHAT? (Deskripsi dari peristiwa yang terjadi)

Pembelajaran minggu ke 7 ini dilaksanakan pada tanggal 29 November s.d 3 Desember 2021. Adapun materi pada modul  1.3.  yaitu tentang visi guru penggerak.  

Calon guru penggerak diminta untuk membuat prakarsa perubahan yang akan dilakukan di sekolah, dengan mengaplikasikan langkah-langkah  B-A-G-J-A  dalam menerapkannya. 

Kegiatan ini memuat demonstrasi kontekstual tentang  visi guru penggerak dengan menerapkan Inquiri Apresiatif (IA)

Berikut saya share tentang demonstrasi visi guru penggerak


Demonstrasi visi guru penggerak menjadikan saya lebih mempelajari bagaimana penerapan B-A-G-J-A
kami juga diminta untuk mengamati hasil karya rekan ssama calon guru penggerak dan memberikan umpan balik terhadap apa yang disampaikan.

Elaborasi pemahaman bersama instruktur menuliskan refleksi dari pembelajaran yang sudah kamiu lakukan berkaitan dengan visi guru penggerak. 

Reaksi saya saat itu saya merasa  banyak  hal yang diungkapkan oleh instruktur berkaitan dengan visi guru penggerak, serta menjadi lebih ingin menggali lagi  tentang bagaimana mewujudkan visi guru penggerak.

Kami saling berkolaborasi mengungkapkan visi yang akan di susun.  Dalam pembelajaran saya berusaha untuk mengikuti tugas secara bertahap, melaksanakan tugas mandiri dan saling memberikan umpan balik terhadap rekan sesama calon guru penggerak. 

SO WHAT? (Analisis dari peristiwa yang terjadi)

 Perasaan saya pada pembelajaran ini berlangsung saya merasa antusias, bersemangat dan mencoba   untuk membagi waktu supaya tidak tertingga materi yang disampaikan di LMS.

Perasaan saya dengan rekan lainnya sama yaitu ingin menyelesaikan LMS tepat waktu dan mempelajari materi modul ini sebaik mungkin. 

Dampak yang timbul dengan saya merancang visi guru penggerak, saya berusaha untuk dapat menjadikan murid merdeka belajar dengan penerapan B_A_G_J_A


  Setelah pembelajaran ini saya berharap bisa mewujudkan apa yang sudah saya susun dalam membuat    visi guru penggerak.  Kecenderungan yang saya alami adalah bagiamana saya harus menyusun               strategi yang dapat  mewujudkan visi,

Inkuiri Apresiatif dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan, jadi saya harus menyusun berbagai kekuatan untuk dapat berkolaborasi dengan warga sekolah yang lainnya.

 NOW WHAT? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi) 

 Langkah yang tersusun dengan rapi dalam mewujudkan visi guru penggerak harus tersusun dengan rapi. Informasi yang yang saya dapatkan dalam pembelajaran ini adalah dengan membaca LMS dan mngaitkan antara materi yang sudah saya pelajari sebelumnya.

Berbagai dukungan untuk menindak lanjuti refleksi visi guru penggerak adalah perlu adanya kolaborasi dari berbagai pihak. Langkah pertama yang saya ambil yaitu dengan berkomunikasi dengan atasan, wakasek, mgmp dan siswa untuk dapat mewujudkan vis.

Setelah Anda melakukan pembelajaran ini, hal baru yang ingin saya bagikan kepada rekan   atau  lingkungan adalah tentang Inquiri Apresiatif (IP). Bagaimana kita membentuk kekuatan  yang dimilki, membuat prakarsa perubahan, serta bagaimana menerapkan BAGJA.

Demikian refleksi yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Salam sehat... Salam Bahagia... Salam Guru Penggerak

Monday, December 6, 2021

KONEKSI ANTAR MATERI VISI GURU PENGGERAK



Bismillah... Pada kesempatan ini, penulis akan membahas terkait dengan tugas modul 1.3 a.9 yaitu Koneksi antar materi visi guru penggerak.

Keterkaitan materi Pemikiran Filosofi Ki Hadjar Dewantara, Visi guru penggerak, Profil pelajar pancasila dan nilai dan  guru penggerak sangat berkaitan atau adanya keterkaitan.

Filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara  pendidikan menuntut anak-anak  tumbuh sesuai dengan kodratnya dan mengikuti perkembangan zaman .

Visi dari guru penggerak yaitu terwujudnya siswa yang merdeka belajar dan memiliki karakter profil pelajar pancasila.

Nilai dan peran guru pengerak  : Nilai yang terkait yaitu berpihak kepada murid, peran nya pemimpin pembelajar, mendorong komunita praktisi, mendorong kolaborasi, menjadi coch, dan mendorong kepemimpinan murid.

Paradigma Inquiri Aprsiatif (IP) pada tahapan B-A-G-J-A  melakukan perubahan budaya positif  dalam pendekatan kolaboratif.

Berikut penulis paparkan dalam peta konsep 



Demikian koneksi materi dari visi guru penggerak menurut penulis. Semoga bermanfaat, Terima kasih

Salam Sehat... Salam Bahagia... Salam Guru Penggerak...