Followers

Monday, April 25, 2022

KONEKSI ANTAR MATERI 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN




Bismillah...

" Mengajarkan anak berhitung itu baik, namun mengajarkan mereka  apa yang berharga /utama adalah yang terbaik "
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best)


BobTalbert

Proses pembelajaran pendidikan guru penggerak merupakan  suatu proses yang yang dijalani untuk mendapatkan hasil transformasi pendidikan yang lebih baik. Hal ini dilakukan  untuk mewujudkan merdeka belajar , yang harus dipahami oleh calon guru penggerak adalah bagaimana  mengajarkan sesuatu yang berharga  dalam proses pendidikan ini.

Nilai-nilai dan prinsip-prinsip dalam mengambil keputusan dapat  memberikan dampak yang positif terhadap lingkungan kita. Pengambilan keputusan  menjadi lebih tersusn dengan baik melalui langkah-langkajh dalam pengambilan keputiusan 

Sebagai seorang pemimpin pembelajar saya dapat berkonstribusi langsung dalam pengambilan keputusan dalam proses pembelajaran di lingkungan sekolah.

Dalam pembelajaran pendidikan guru penggerak  modul 3.1.a.9. Koneksi antar materi  saya akan membuat rangkuman tentang pemahaman saya  yang berkaitan dengan koneksi antar materi dengan menjawab 10 pertanyaaan yang disajikan dalam LMS. 

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan  filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah keputusan sebagai seorang pemimpin?

Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu suatu proses yang menuntun segala kodrat pada anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

Filosofi Triloka sangat berpengaruh pada keputusan seorang pemimpin. pengambilan keputusan ini harus berdasarkan pada prapta triloka Ki Hajar Dewantara yaitu 

a. Ing Ngarsa Sung Tuladha artinya memberi contoh di depan. 

    Proses pembelajaran yang dilakukan seorang guru  harus memberikan contoh atau keteladanan kepada muridnya agar tercapainya proses pembelajaran yang baik. Guru membimbing dan mengarahkan muridnya serta memjadi pemimpin pembelajaran yang bisa dijadikan teladan atau contoh kepribadian yang baik selain mempunyai kompetensi yang dimilki oleh seorang guru. 

b.  Ing Madya Mangun Karsa artinya di tengan membangun kehendak. 

  Setiap murid memiliki kompetensi yang berbeda-beda. Sebagai seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat berperan di tengah  dalam hal membangun dan memunuculkan kehendak, keinginan, niat positif yang lahir dari pribadi anak, sehingga potensi yang ada dalam diri anak mampu dioptimalkan dengan baik dan mampu membawa pada kehidupan yang jauh lebih baik lagi dikehidupan.

c. Tut Wuri Handayani artinya mendorong dari belakang. 

    Potensi yang dimiliki oleh seorang murid perlu di dorong dari belakang oleh seorang guuru untuk dapat mewujudkan cita-cita dan mengembangkan potensi yang dimiliki murid. 

Filosofi triloka sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan bagi pemimpin pembelajaran karena keputusan yang diambil harus bisa menjadi teladan bagi murid, membangun dan mengembangkan setiap potensi murid dan mendorong murid dalam mewujudkan cita-citanya berdasarkan potensi yang dimilikinya berdasarkan keputusan yang kita buat sebagai pemimpin pembelajaran. 



Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan ? 

Nilai- nilai positif  harus ditanamkan dalam diri untuk dapat membuat keputusan-keputusan yang baik serta dipertimbangkan keputusannya dengan matang.  

Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong guru untuk mengambil keputusan yang benar. Nilai-nilai tersebut yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif  serta berpihak kepada murid. Nilai-nilai tersebut merupaka prinsip yang dipegang ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita dalam mengambil dua keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada di sutu dilema etika (benarvs benar) atau berasa dalam dua pilihan antara benar lawan salah (bujukan moral) yang menuntun kita untuk mengambil keputusan yang benar. 

Tiga prinsip yaitu berpikir berbasis hasil akhir ( End Based Thingking), berpikir berbasisi peraturan  (based Based Thingking), dan berpikir berbasis rasa peduli (Care based Thingking

Artinya  nilai-nilai yang ada  dalam diri kita sengat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan  yang diambil berdasarkan prinsip-prinsip. 

Kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan "coaching" (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching" yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching adalah keterampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah TIRTA, kita dapat mengidentifikasikan masalah yang terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis.  Konep coaching TIRTA sangat ideal apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang diambil.

Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan seorang guru karena sebagai coach akan menggali potensi dari murid dengan memberikan pertanyaan pemantik sehingga murid dapat menemukan potensi yang ada dalam dirinya untuk dapat meyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya dengan mengambil keputusan yang tepat.

TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.

Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :

T : Tujuan

I : Identifikasi

R : Rencana aksi

TA: Tanggung jawab

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Kompetensi sosial dan emosional sangat diperlukan agar guru dapat fokus dan melakukan kesadaran penuh dalam mengontrol dirinya, dapat mengambil keputusan dengan tepat, dan mewujudkan merdeka belajar. 

Dengan kesadaran penuh (mindfulness) kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang, dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan. (Hawkins, 2017, hal 15). Kesadaran penuh sangat dibutuhkan dan diperlukan dalam pengambilan keputusan adalah kesadaran penuh untuk dapat menentukan situasi yang sedang dihadapi tepat dalam mengambil paradigma dan prinsip berpikir, cermat dalam menentukan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Pembahasan tentang studi kasus yang dihadapi oleh seorang pendidik adalah dengan menganalisis terlebih dahulu apakan permasalahan tersebut lebih focus pada masalah moral atau dilemma etika. Penerapan empat paradigma sangat membantu setelah mengetahui ranah masalah atau situasi yang sedang dihadapi, langkah ketiga prinsip berpikir mana yang digunakan dan tindakan selanjutnya adalah peninjauan dan pengambilan keputusan dengan menggunakan 9 langkah tahapan, proses ini diharapkan dapat membantu CGP sebagai pemimpin pembelajaran dapat menghasilkan keputusan yang cermat dan tepat dalam menghadapi sebuah situasi baik dilema etika atau bujukan moral.

Proses kegiatan sebagai pemimpin pembelajaran harus mengambil keputusan yang tepat dan  merupakan keputusan yang bertanggung jawab.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Sebuah pengambilan keputusan yang baik dan tepat tentunya harus dilakukan secara tepat dan bertanggung jawab serta menganalisis berbagai aspek dan sudut pandang. Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada lingkungan yang nyaman, aman, positif, dan kondusif karena kita sebagai pemimpin pembelajaran mengambil keputusan yang tepat yang dapat berdampak positif bagi banyak pihak yang ada disekolah/lingkungan asal. 

Langkah yang perlu dilakukan adalah mengenali terelebih dahulu kasus yang terjadi apakah kasus atau permasalahan tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral.

Selanjutnya  pengambilan keputusan mempertimbangkan empat paradigma dilema etika. Apakah paradigma dilema etika individu melawan masyarakat, rasa keadilan melawan rasa kasihan, kebenaran melawan kesetiaan, atau jangka pendek melawan jangka Panjang. 

Keputusan tersebut haruslah diambil dengan menggunakan langkah-langkah pengambilan dan pengusian keputusan yang benar, sehingga pada akhirnya guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran  mampu menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman untuk murid dan lingkungan sekolahnya.

Apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan-kesulitan di lingkungan saya dalam melaksanakan dan menjalankan pengambilan keputusan -keputusan terhadap dilema etika disebabkan berbagai faktor misalnya, masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun, masih minimnya pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki dalam menyelesaikan situasi permasalahan yang dihadapi, kekhawatiran apakah keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat dan dapat mengakomodir kepentingan orang banyak serta tidak mencederai pihak lainnya, dan adanya perbedaan mindset dan sudut pandang yang menyebabkan sulitnya menemukan solusi atau kesepakatan yang dapat diterima oleh setiap pihak yang terlibat.

Pemahaman tentang 4 paradigma dilema etika harus benar-benar dipahami dan di hayati agar kita bisa membuat keputusan terhadap kasus-kasus yang dihadapi sehingga menghasilkan lingkungan yang positif dan kondusif, sehingga kesulitan dalam tantangan ini dapat diatasi dengan baik.

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pengambilan keputusan yang dilakukan tentu akan mempengaruhi pola pengajaran yang kita lakukan terhadap murid. Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu keputusan yang diambil sebagai bentuk proses dalam menuntun murid untuk merdeka, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam, zaman dan potensi yang dimilikinya. Hendaknya guru memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan bakat dan potensi yang dimiliknya. 

Dengan adanya  penjelasan materi dari modul 3.1 saya menjadi tahu bagaimana membuat  keputusan dengan baik baik terutama saat menemukan masalah belajar pada murid, dengan semua materi yang telah dipelajari dari modul pendidik sudah seharusnya memberikan keputusan yang bersifat positif, membuat murid  merasa nyaman, dan tenang. Semuanya dilakukan untuk  memerdekakan murid dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan belajar mereka.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi  kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran keputusan kita dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan masa depan murid, oleh karena itu sebagai seorang guru kita perlu mempertimbangkan segala keputusan secara tepat. Dengan memperhatikan empat paradigma, tiga prinsip dan 9 langkah dalam pengambilan keputusan. 

Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang berkaitan dengan modul ini dengan modul sebelumnya yaitu

Pengambilan keputusan yang diambil oleh pemimpin pembelajaran harus berlandaskan pada filosofi  Ki Hajar Dewantara yang berhubungan dengan filosofi Pratap Triloka yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha artinya memberi contoh di depan, Ing Madya Mangun Karsa artinya di tengan membangun kehendak,  dan Tut Wuri Handayani artinya mendorong dari belakang. Juga harus berdasarkan pada budaya positif  dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang postif, kondusif, aman dan nyaman serta guru harus memiliki kesadaran penuh ( mindfullnes). untuk menghantarkan muridnya pada profil pelajar pancasila. Dalam perjalanannya ada dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 tahapan dalam pengambilan dan pengujian  keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu permasalahan agar keputusan dapat diambil dengan tepat dan bertanggung jawab. 

Demikian koneksi materi dalam mengambil keputusan yang saya pahami dihubungkan dengan materi-materi pada modul sebelumnya.

Semoga apa yang saya paparkan dapat bermanfaat khususnya untuk saya dan umumnya untuk pembaca. 

Terima Kasih.

Salam Sehat... Salam Bahagia.. Salam Guru Penggerak ...

 

1 comment:

  1. Pemaparan yang sangat jelas Bu... Semangat...

    ReplyDelete