Bismillah...
Allhamdulillah pendidikan calon guru penggerak sudah memasuki minggu ke 13. Memang tidak mudah untuk mengikuti pendidikan ini tapi penulis tetap semangat untuk menggali dan mempelajari pembelajaran yang ada di program guru penggerak.
Minggu ke 13 ini penulis akan merefleksikan kegiatan pembelajaran dengan model Six Thinking Hats (Teknik 6 Topi)
Model Six Thinking Hats diperkenalkan oleh Edward de Bono pada tahun 1985. Model ini melatih
kita melihat satu topik dari berbagai sudut pandang, yang disimbolkan dengan enam warna topi.
Setiap topi mewakili cara berpikir yang berbeda; beberapa di antaranya terkadang mendominasi
cara kita berpikir. Karena itu, dengan semakin sering melatih keenam “topi”, kita akan dapat
mengambil refleksi yang lebih mendalam. Keenam topi tersebut berikut penggunaannya dalam
jurnal refleksi adalah:
1) Topi putih: tuliskan informasi sebanyak-banyaknya terkait pengalaman yang terjadi.
Informasi ini harus berupa fakta; bukan opini.
2) Topi merah: gambarkan perasaan Anda terkait dengan topik yang sedang dibahas,
misalnya perasaan saat mempelajari materi baru atau saat menjalankan diskusi kelompok.
3) Topi kuning: tuliskan hal-hal positif yang terkait dengan topik tersebut.
4) Topi hitam: tuliskan kendala, hambatan, atau risiko dari tindakan/peristiwa yang sedang
dibahas.
5) Topi hijau: jabarkan ide-ide yang muncul setelah mengalami peristiwa tersebut.
6) Topi biru: tarik kesimpulan dari peristiwa yang terjadi, atau ambil keputusan setelah
mempertimbangkan kelima sudut pandang lainnya. Bandingkan dengan tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
FACT/ FAKTA ( TOPI PUTIH)
Kegiatan yang saya lakuka minggu ini adalah refleksi terbimbing, demonstrasi kontekstual, elaborasi konsep dan koneksi antar materi. Dari kegiatan yang saya lakukan saya mengambil beberapa materi pembelajaran tentang KSE ( Kompetensi Sosial Emosional) dan PSE (Pembelajaran Sosial Emosional).
Refleksi terbimbing dilaksanakan secara virtua, dalam kegiatan tersebut instruktur membagikan pengalaman kepada calon guru penggerak dalam menerapkan pembelajaran sosial emosional yaitu dengan latihan kesadaran penuh (mindfulness) dan teknik STOP.
Dalam kondiri kesadaran penuh, kita dapat merespon sesuatu hal atau masalah dengan baik dan dengan pengambilan keputusab yang bertanggung jawab. Dengan mindfulness kita dapat membangun keterbungan sendiri (self-awareness) dengan berbagai emosi sosial dalam kehidupan. Kita dapat melatoh kesadaran diri kita dengan teknik STOP yang bisa dijabarka S(STOP) kita berhenti sejenak dari aktivitas atau kegiatan yang sedang kita lakukan. T (Take a deep breathe) menarik napas panjang, ) O (Observer) Amati, P (Preceed) lanjutkan.
Kegiatan Demokrasi kontekstual, calon guru penggerak membuat RPP yang terintegrasi dengan pembelajaran berdiperensiasi dan PSE (Pembelajaran Sosial Emosional). Sedangkan dalam elaborasi konsep penulis mendapatkan tambahan pengetahuan dan pengalaman tentang contoh-contoh yang menguatkan pemahaman penulis tentang pembelajaran sosial emosional. Pembelajaran dilanjutkan dengan pembelajaran koneksi antar materi yang sudah dipelajari antara pendidikan yang berpihak kepada murid, pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional.
FEELING / PERASAAN (TOPI MERAH)
Perasaan penulis setelah mempelajari Pembelajaran Sosial Emosional saya merasa lebih senang, antusias dan lebih termotivasi lagi untuk dapat mengimplentasikan nya dalam pembelajaran. Penulis menjadi menyadari bahwa dalam pembelajaran tidak hanya perlu aspek intelegensi atau kemampuan kognitif saja tetapi diperlukan juga pembelajaran yang mengarah pada sosial dan emosional.
BENEFIT/ KEUNTUNGAN (TOPI KUNING)
Hal positif yang dapat saya pelajari dalam pembelajaran sosial emosional ini adalah penulis menjadi lebih mengenali perasaan, pengolahan diri, membangun komunikasi dan mengambil keputusan dengan lebih baik. saya dapat mengajarkan kepada murid bagaimana menguasai 5 KSE melalui integrasi dalam pembelajaran.
Penulis menjadi lebih berpikir positif dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi, fokus dalam setiap apa yang dikerjakan dan segala hal menjadi pembelajaran yang berarti bagi penulis.
COUTION/ PERINGATAN (TOPI HITAM)
Hambatan saya dalam kegiatan pembelajaran sekarang adalah karena murid harus kembali belajar dari rumah akibat adanya situasi yang masih pandemi dengan farian virus baru omicron sehingga pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, sehingga untuk mengeksplor sosial dan emosional kurang terlihat.
CREATIVITY/ KREATIFITAS (TOPI HIJAU)
Pelaksanaan pembelajaran yang masih daring menjadikan penulis untuk lebih kreatif dalam membuat media pembelajaran sehingga murid menjadi lebih termotivasi dalam belajar dan tergali sosial dan emosionalnya. Penulis juga membuat RPP yang berdiferensisi serta menerapkan pembelajaran sosial emosional dalam rancangan tersebut.
PROCES/ PROSES (TOPI BIRU)
Pembelajaran sosial emosional dapat dilakukan dengan berbagai teknik atau cara sehingga antara murid dan guru menjadi lebih bisa mengelola diri dan memahami orang lain. Melalui kompetensi sosial emosional saya yakin setiap murid akan mampu menghadapi masalah, menemukan solusi atas masalah nya dan memiliki karakter yang baik.
Penulis menerapkan pembelajaran emosional dengan melakukan kesadaran penuh (mindfulness) dan teknik STOP dengan harapan bisa mengelola emosi dan diri, memiliki sifat empati, ketangguhan fisik dan mental serta bisa membuat keputusan yang bertanggung jawab.
Harapan penulis semoga penerapan pembelajaran sosial emosional dapat menjadikan diri penulis dan murid agar dapat memahami diri sendiri dan selalu berpikir positif dalam menghadapi permasalahan.
Demikian yang dapat penulis sampaikan dalam refleksi minggu ke 13 ini, semoga dapat bermanfaat khususnya untuk penulis dan umumnya untuk yang membaca tulisan ini.
Terima Kasih.
Salam Sehat... salam Bahagia... Salam Guru Penggerak...
No comments:
Post a Comment