ECOBRICK PART.1
Ai Mulyati,M.Pd.
Masih terngiang tak kala Bu Retno menyampaikan pesan dalam upacara pagi ini, bahwa seluruh siswa dalam minggu ini akan mengumpulkan ecobrick. “ Apa yang harus aku kumpulkan ya…” gumamku dalam hati.
“ Mohon perhatian seluruh siswa dipersilakan kembali ke kelas untuk melaksanakan pembelajaran.” Suara dari spiker itu menggangetkan lamunanku. Suara riuk pikuk di kantin sekolah yang ku abaikan.
Mira menepuk pundakku. “Ayo… kita ke kelas kembali”
Kuanggukan kepala tanpa bersuara. Dengan diiringi langkah kaki yang sayup menuju kantin ungu yang dari tadi ku pandangi. “ Bi… aku beli air mineralnya ya” sambil ku serahkan uang 4000 untuk membayar nya.
Aku dan Mira mulai menuju ke kelas kami yang berada di ujung belakang. Tampak kupandangi sampah yang tepat berada di bawah tempat sampahnya. Ku pungut sampah itu sambil kemasukkan kedalam tong sampah.
“ Mir, kamu lihat kan barusan ternyata teman kita masih ada yang kurang memperhatikan bagaimana harus membuang sampah.”
“ Iya, ya… padahal tong sampah yang disediakan sekolah sudah banyak.”gumam Mira.
“ Iya, di depan-depan kelas sudah disediakan tong sampah, malah disana sudah ada tulisannya jenis sampah yang ada. “ jelasku.
“ Mir, bagaimana kalau nanti pulang sekolah kita adakan pertemuan dengan seluruh anggota pramuka.” Ajakku.
Memang aku dan Mira adalah anggota penegak pramuka dari sekolah kami, dan aku adalah Pradaninya.
“ Iya, aku setuju Bill… “ kata Mira.
Saat itu juga aku umumkan lewat WA group bahwa sepulang nanti kita akan adakan pertemuan.
Tak terasa disela obrolan, kami sudah berada di pintu masuk kelas. Dan aku lanjutkan mengikuti pelajaran sebagaimana biasanya.
Aku dan Mira memang sahabat sejak lama, malah sudah kuanggap dia saudara ku. Bagaimana tidak dari SD,SMP, bahkan SMA kami selalu bersama. N’tahlah apakah ini kebetulan atau memang kami harus selalu bersama. Sehari saja dia tidak sekolah, aku merasa ada yang hilang. Keceriaannya yang membuat aku semangat. Walaupun dia bukan dari keluarga yang utuh tapi keceriaannya selalu terpancar dalam wajahnya, senyumannya membuat orang terpana, dan tutur katanya yang halus dan lembut.
Tak terasa jam dinding yang berdetak dikelas menujukkan waktu jam 15.30 WIB. Itu artinya kami telah selesai mengikuti pembelajaran hari ini, Bu Rini yang cantik menutup pembelajaran kali ini. Dia adalah guru matematika yang tak menyeramkan… hehehe…
(Kelanjutannya bagaimana ya...Bersambung... hehehe)
No comments:
Post a Comment